SERI NASIHAT SUKSES YANG TIDAK LAZIM #4: JADILAH PEMALAS

by admin | 07/08/2018 | Uncategorized

Ini jelas nasihat yang tidak lazim dalam khasanah kesuksesan. Lazimnya kesuksesan dikaitkan dengan kerja keras, seperti CEO Yahoo yang punya jam kerja 130 jam per minggu. Tapi tidak semua orang sukses yang mengutamakan kerja keras. Bill Gates sewaktu masih aktif berkiprah di Microsoft membuat aturan rekrutmen di perusahaannya supaya mencari kandidat yang pemalas. Alasannya menurut pengalaman Gates, orang-orang pemalas ini memiliki keahlian menemukan solusi yang mudah untuk masalah yang sulit.

Selain itu, pemalas sebetulnya juga memiliki kelebihan dalam bekerja secara fokus. Mereka biasanya bekerja menjelang tenggat waktu, tapi orang-orang ini tidak punya pilihan lain selain bekerja fokus pada masalah yang sangat penting ketika waktu tersisa tinggal sedikit. Ini sebetulnya juga inti dari prinsip Pareto 80/20, bahwa 20% upaya atau aktivitas kita akan menyumbang 80% hasil yang kita peroleh. Pemalas memiliki kelebihan dalam memusatkan perhatian pada 20% aktivitas penentu tersebut.

Dalam bidang keuangan juga dikenal konsep “penghasilan pasif” yang sebetulnya merupakan konsep “pemalas”. Karena tanpa bekerja, penghasilan sudah mengalir rutin dengan sendirinya. Warren Buffet adalah penganjur utama konsep ini. Katanya tanpa penghasilan pasif, kita akan bekerja seumur hidup.

Dalam literatur ilmu ekonomi J.M. Keynes tahun 1930 sudah meramalkan bahwa tahun 2030 adalah tahun “pengangguran berteknologi”. Begitu banyak pekerjaan manual yang bisa dialihkan ke teknologi, aplikasi, kecerdasan buatan, atau robot. Sehingga masih menurut prediksi Keynes, tahun 2030 jam kerja yang wajar adalah 3 jam sehari atau 15 jam seminggu. Itulah sebabnya Keynes menyebutnya sebagai era “pengangguran berteknologi”.

Jadi ketika kita melihat orang lain atau diri kita sendiri menunjukkan gejala kemalasan, jangan buru-buru menilai sebagai kekurangan yang harus diperbaiki. Mungkin kita sedang menerapkan prinsip Pareto, fokus, dan mengantisipasi era “pengangguran berteknologi”.