Seri Nasihat Sukses Yang Tidak Lazim (1): Belajarlah Filsafat Kalau Mau Sukses Berbisnis

by admin | 04/07/2018 | Uncategorized

Inilah nasihat dari pendiri medsos khusus profesional LinkedIn, dengan pengguna lebih dari 500 juta, Reid Hoffman. Nasihat ini jelas tidak lazim, karena biasanya orang akan belajar bisnis di sekolah bisnis yang menawarkan gelar MBA, atau belajar pemasaran dan keuangan supaya piawai berbisnis. Tetapi menurut Hoffman, itu jalan yang keliru karena sekolah bisnis mengajarkan pola berpikir bisnis yang terstruktur dan teratur; sedangkan lingkungan bisnis bersifat disruptif.

Hoffman sendiri memang belajar filsafat di Oxford. Dan menurut pengalamannya, filsafat sangat membantu kesuksesannya sebagai pebisnis sekaligus investor andal di lembah Silikon. Hoffman termasuk salah satu investor pertama di FB tahun 1994. Tapi berkat pelajaran filsafat yang diresapinya dia mulai mengajukan pertanyaan mendasar: Tidakkah diperlukan juga medsos khusus untuk kalangan profesional? Gagasan inilah yang mendorongnya meluncurkan LinkedIn tahun 2003.

FB dan LinkedIn adalah portofolio investasinya yang sukses besar selain PayPal, Airbnb, Flickr, dll. Kalau ditanya apa kunci keberhasilannya sehingga bisa menerawang perusahaan rintisan teknologi yang akan sukses besar, menurutnya karena kemampuannya berpikir filosofis. Menurut Hoffman filsafat mengajarkan kita untuk bisa merumuskan dan menjawab pertanyaan yang hakiki: Apa tugas manusia di dunia? Apa hakikat risiko? Bagaimana manusia sebagai individu dan kelompok berinteraksi satu sama lain? Apa yang dibutuhkan dari media sosial? Siapa yang membutuhkan media sosial? Pertanyaan filosofis inilah yang kemudian mengantarkannya pada kelahiran medsos khusus profesional yaitu LinkedIn.

Kembali ke LinkedIn, medsos besutan Hoffman ini membukukan sukses besarnya ketika di akhir tahun 2016, Microsoft membelinya dengan harga yang fantastis setara Rp364 T. Inilah akuisisi terbesar sepanjang masa. Nilai akuisinya selain memecahkan rekor, juga lebih dari cukup untuk menutup defisit APBN negara kita tahun ini (Richard Feloni, Business Insider US, 24/11/17).